10:30 AM -
30 Hari Bercerita,Kritik Sosial
30 Hari Bercerita,Kritik Sosial
Hari Ke-9: Agama yang Di Jual
Selamat pagi pembaca,
Saya resah dengan perkembangan umat islam sekarang ini.
Mereka seakan tidak memperdulikan norma-norma agama. Kemarin, saya kedatangan
dua orang pemuda. Mereka mengenakan peci lengkap dengan baju koko dan sarung.
Mereka mengaku berasal dari sebuah pondok di Singosari dan ingin meminta
sumbangan uang untuk pembangunan pondok.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari pernyataan mereka. Namun yang jadi permasalahan di mata saya adalah mengapa mereka sampai rela meminta-minta seperti itu padahal notabene ilmu keagamaan mereka jauh lebih mengerti keagamaan khususnya islam. Di alquran juga telah di jelaskan bukan bahwa umat muslim dilarang keras meminta-minta kepada orang lain. Nabi Muhammad juga telah melarang tindakan tersebut. Lalu mengapa mereka sampai seperti itu. Tidak heran banyak pandangan negative mengenai islam dan pondok pesantren dari masyarakat awam. Saya pernah mengunjungi sebuah panti asuhan islam. Disana mereka membuka wirausaha home industry kerupuk guna menyokong perekonomian panti asuhan tersebut. Nah, jika panti asuhan saja bisa mengakalinya mengapa lembaga sekelas pondok pesantren kok malah minta-minta ke rumah warga?
Sebenarnya tidak ada yang salah dari pernyataan mereka. Namun yang jadi permasalahan di mata saya adalah mengapa mereka sampai rela meminta-minta seperti itu padahal notabene ilmu keagamaan mereka jauh lebih mengerti keagamaan khususnya islam. Di alquran juga telah di jelaskan bukan bahwa umat muslim dilarang keras meminta-minta kepada orang lain. Nabi Muhammad juga telah melarang tindakan tersebut. Lalu mengapa mereka sampai seperti itu. Tidak heran banyak pandangan negative mengenai islam dan pondok pesantren dari masyarakat awam. Saya pernah mengunjungi sebuah panti asuhan islam. Disana mereka membuka wirausaha home industry kerupuk guna menyokong perekonomian panti asuhan tersebut. Nah, jika panti asuhan saja bisa mengakalinya mengapa lembaga sekelas pondok pesantren kok malah minta-minta ke rumah warga?
Saya terus bergumul dengan statement-statement di pikiran
sembari melihat surat-surat proposal dan berbagai surat pengantar sumbangan
yang telah di jilid rapi. Disana memang benar terdapat tanda tangan dan stempel
pondok pesantren tersebut bahkan tak tanggung-tanggung ada CV dan sekilas data
mengenai pondok tersebut walau tidak ada bukti foto yang memperkuatnya, menurut
saya. Saya sepintas melirik kepada kedua pemuda tadi yang duduk di hadapan saya
lalu saya kembali meneruskan membuka lembar demi lembar surat-surat tersebut.
Pikiran saya kembali berperang. Ada statement baru yang muncul di benak saya,
apakah benar pondok tersebut nyata? Lalu mengapa sang kyai (pemimpin pondok
pesantren) malah menyuruh siswanya untuk berkelana mencari sumbangan? Apakah
kondisi ekonomi mereka sangat terpuruk?
Saya menutup proposal tersebut dan berdiri untuk mengambil
uang sembari mengatakan “silahkan menunggu sebentar ya mas”. Saya mengambil
selembar uang dari dompet. Ketika saya akan berjalan ke ruang tamu, ibu
berbisik kepada saya.
“mereka dari mana?”
“dari singosari bu, pondok pesantren, katanya..”
“islam sekarang di jual ya..”, kata ibu
Saya hanya menggelengkan kepala dan kembali ke ruang tamu. Saya
selipkan uang tersebut di sela-sela lembaran proposal tersebut dan
memberikannya ke dua pemuda tadi. Mereka mengucapkan terima kasih sembari
berdiri dan kemudian pamit pulang. Pikiran saya masih tertuju pada mereka. Jika
masih seperti ini terus, mereka meminta sumbangan dengan mengatas namakan islam
dan pondok pesantren, stigma negative masyarakat tentang islam akan semakin
parah. Terlepas dari nyata atau tidak pondok tersebut dan atau apakah uang
tersebut benar-benar tersalurkan sesuai dengan apa yang mereka katakana, semoga
keikhlasan dan ketulusan masyarakat yang membantu mereka tidak di salah
gunakan.