Sunday, January 20, 2013

Hari Ke-9: Agama yang Di Jual


Selamat pagi pembaca,

Saya resah dengan perkembangan umat islam sekarang ini. Mereka seakan tidak memperdulikan norma-norma agama. Kemarin, saya kedatangan dua orang pemuda. Mereka mengenakan peci lengkap dengan baju koko dan sarung. Mereka mengaku berasal dari sebuah pondok di Singosari dan ingin meminta sumbangan uang untuk pembangunan pondok.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari pernyataan mereka. Namun yang jadi permasalahan di mata saya adalah mengapa mereka sampai rela meminta-minta seperti itu padahal notabene ilmu keagamaan mereka jauh lebih mengerti keagamaan khususnya islam. Di alquran juga telah di jelaskan bukan bahwa umat muslim dilarang keras meminta-minta kepada orang lain. Nabi Muhammad juga telah melarang tindakan tersebut. Lalu mengapa mereka sampai seperti itu. Tidak heran banyak pandangan negative mengenai islam dan pondok pesantren dari masyarakat awam. Saya pernah mengunjungi sebuah panti asuhan islam. Disana mereka membuka wirausaha home industry kerupuk guna menyokong perekonomian panti asuhan tersebut. Nah, jika panti asuhan saja bisa mengakalinya mengapa lembaga sekelas pondok pesantren kok malah minta-minta ke rumah warga?

Saya terus bergumul dengan statement-statement di pikiran sembari melihat surat-surat proposal dan berbagai surat pengantar sumbangan yang telah di jilid rapi. Disana memang benar terdapat tanda tangan dan stempel pondok pesantren tersebut bahkan tak tanggung-tanggung ada CV dan sekilas data mengenai pondok tersebut walau tidak ada bukti foto yang memperkuatnya, menurut saya. Saya sepintas melirik kepada kedua pemuda tadi yang duduk di hadapan saya lalu saya kembali meneruskan membuka lembar demi lembar surat-surat tersebut. Pikiran saya kembali berperang. Ada statement baru yang muncul di benak saya, apakah benar pondok tersebut nyata? Lalu mengapa sang kyai (pemimpin pondok pesantren) malah menyuruh siswanya untuk berkelana mencari sumbangan? Apakah kondisi ekonomi mereka sangat terpuruk?

Saya menutup proposal tersebut dan berdiri untuk mengambil uang sembari mengatakan “silahkan menunggu sebentar ya mas”. Saya mengambil selembar uang dari dompet. Ketika saya akan berjalan ke ruang tamu, ibu berbisik kepada saya.
“mereka dari mana?”
“dari singosari bu, pondok pesantren, katanya..”
“islam sekarang di jual ya..”, kata ibu

Saya hanya menggelengkan kepala dan kembali ke ruang tamu. Saya selipkan uang tersebut di sela-sela lembaran proposal tersebut dan memberikannya ke dua pemuda tadi. Mereka mengucapkan terima kasih sembari berdiri dan kemudian pamit pulang. Pikiran saya masih tertuju pada mereka. Jika masih seperti ini terus, mereka meminta sumbangan dengan mengatas namakan islam dan pondok pesantren, stigma negative masyarakat tentang islam akan semakin parah. Terlepas dari nyata atau tidak pondok tersebut dan atau apakah uang tersebut benar-benar tersalurkan sesuai dengan apa yang mereka katakana, semoga keikhlasan dan ketulusan masyarakat yang membantu mereka tidak di salah gunakan.