Thursday, January 17, 2013

8:16 PM -

Hari Ke-7: Abad 22 Tak Seindah Itu (Part 2)


Selamat malam pembaca,


(Lanjutan Part 1)
------
Di zaman itu juga, rumah-rumah mungkin sudah tidak memakai batu bata dan semen sebagai material utamanya (saat itu batu bata sudah mengalami kepunahan dan pabrik semen, sudah mengalami evolusi menjadi perekat kaca). Ya, kemungkinan material tersebut akan berevolusi menjadi semi kaca dan kaca sebagai bahan material utama pembangunan. Ketika semua sudah serba kaca, mungkin pemanasan global sudah mencapai klimaks.



Di zaman itu juga, di Indonesia, mungkin juga Jakarta sudah menjadi kota-kota kanal seperti Venice di Italy. Keren kan. J
Jadi nantinya Istana Presiden juga akan di kelilingi kanal-kanal. Disinilah era baru transportasi air berkembang mengalahkan transportasi darat. Lalu, akan banyak juga dengungan music-music klasik yang mendengung di sepanjang kanal-kanal tersebut. How romantic it is!

Di zaman itu juga, mungkin manusia-manusia sudah menjadi pemalas karena teknologi serba robot. Manusia-manusia bisa saja menggantikan diri mereka dengan robot untuk bekerja, seperti dalam film Surrogates. Ironisnya, manusia-manusia akan mudah mengalami penyusutan tubuh dan organ penting lainnya karena kurang bergerak dan kurang sinar matahari.

Di zaman itu juga, mungkin sebagian dari bumi sudah berupa air. Daratan yang sudah menyusut akibat deforestasi atau penggundulan hutan guna pembangunan kota-kota dan fasilitas masal lainnya. Ironisnya, dengan sedikitnya daratan, semakin besar kemungkinan akan membludaknya populasi dan akhirnya banyak terjadi kriminalisasi di kota-kota demi bertahan hidup.

Di zaman itu pula, mungkin jumlah binatang akan berkurang drastis akibat efek dari pembuangan limbah, polusi udara, global warming dan lain sebagainya. Hal ini berakibat langsung terhadap kehidupan manusia yang tiba-tiba sepi dan rusaknya rantai makanan.

Di zaman itu pula, mungkin keadaan bumi akan semakin parah. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya pembangunan pembangkit-pembangkit tenaga nuklir dan semakin maraknya pengeboran lepas pantai. Lebih-lebih, udara yang kotor akibat polusi membuat pemerosotan oksigen di udara dan hilangnya penyerap gas berbahaya lain yaitu lahan hijau dan pepohonan.

Nah, kini tinggal bagaimana manusia mencegah agar abad berikutnya tidak menjadi mimpi buruk bagi umat manusia. Mari kita mulai dengan hal-hal yang sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi polusi udara dengan berjalan atau bersepeda, menanam tumbuhan-tumbuhan di pekarangan rumah kita dan sebagainya. Karena tindakan kecil dapat merubah segalanya.