Saturday, February 2, 2013

10:28 AM -

AKB48 Undercover (Part 1)


Di balik kesuksesan pasti ada jalan berliku yang di tempuh. Sama halnya dengan AKB48. Mereka tumbuh dengan membuka audisi untuk seluruh gadis di Jepang. Dari ratusan ribu pendaftar, hanya sekitar 40-an orang yang lolos dan di bagi menjadi tim-tim kecil yang berinisialkan nama grup tersebut, contoh AKB48 mempunyai 4 tim, yaitu: Tim A, Tim K, Tim B dan tambahan Tim 4.


Di balik kesenangan di tiap show dan di balik tiap senyum yang di lontarkan membernya ternyata tersimpan beragam cerita pedih yang harus di taati oleh seluruh 48 member (baik AKB48 maupun seluruh sister grupnya). Aki-P berusaha menjaga kekompakan dan keharmonisan grup yang telah ia buat dengan memberlakukan peraturan-peraturan yang ekstra ketat. Di antaranya adalah aturan Renai Kinshi Jourei atau Aturan Dilarang Menjalin Asmara. Aturan ini sungguh berat bagi seluruh member 48 dikarenakan pada hakikatnya mereka adalah seorang gadis yang tumbuh menjadi wanita dan memerlukan menjalin asmara untuk masa depannya. Sekilas memang miris, mereka harus rela mengorbankan perasaannya dan di sisi lain, mereka di paksa harus memilih untuk terus berada di AKB48 dan mewujudkan mimpinya menjadi idola. Saya pribadi, juga sebenarnya kurang setuju dengan aturan ini karena itu sama saja dengan melarang hak orang lain. Namun, jika di pikirkan secara matang, aturan ini sungguh sangat baik karena dengan adanya aturan ini, member dapat memfokuskan dan memposisikan diri mereka kepada AKB48 dan berjuang untuk meraih mimpinya tanpa khawatir akan kehidupan asmara yang kadang juga mengalami pasang surut.

Aturan yang lainnya adalah para member 48 dilarang untuk mempunyai kehidupan pribadi. Dengan kata lain, kehidupan mereka telah di atur sedemikian rupa untuk hidup dalam kekangan 48 family dan management. Namun, sepertinya bagi JKT48, aturan yang ini sedikit di sesuaikan dengan norma yang berlaku di Indonesia sehingga mereka tetap bisa menikmati hidupnya di luar panggung. Kembali ke topic, dengan di berlakukannya aturan ini, member 48 khususnya AKB48 sendiri menjadi sangat peduli dengan sesame member karena teman sesame member lah yang menjadi obat penawar yang sedikit banyak telah menghilangkan sakit akibat aturan ini, di sisi lain, para member juga sangat merindukan masa-masa hidupnya yang direnggut oleh AKB.

Saya pribadi, sebagai wota (sebutan untuk fans idol group) merasa prihatin dengan kondisi psikologis mereka yang harus di tuntut untuk menghibur penonton/ fans sesering mungkin. Hal ini menjadi sedikit berbau perbudakan karena mereka di tuntut untuk bekerja dan melarang beberapa (saya sebut beberapa karena tidak semua) hak mereka sebagai wanita. Saya yakin tidak banyak penonton/ bahkan sesame fans yang memahami kondisi mereka sedetail ini karena pemikiran setiap orang pastilah berbeda dan tak jarang pula, mereka (para penonton/ fans) yang hanya menginginkan hiburan dari member daripada mengetahui sisi lembut yang tak tersentuh oleh media.