10:41 AM -
69 Tahun Indonesia,Kritik Sosial
69 Tahun Indonesia,Kritik Sosial
Negeri Para Brahma - "Kami butuh sejahtera bukan kata merdeka!"
![]() |
| Salah satu pesona negeriku. Gb: Istana para Brahma |
Aku hidup di negeri yang sudah tua. Negeri yang sudah usang dan berdiri dari kaum pejuang. Sebuah negeri yang hampir seluruh daratannya terpisah oleh air. Kami hidup dalam keterbatasan. Keterbatasan? Ya, kami tinggal berjauhan. Hanya transportasi dan koneksi yang menghubungkan kami. Selain itu, kami hidup dari kalangan menengah walaupun ada beberapa yang hidup di bawah strata sosial kami. Uniknya, segelintir orang hidup di atas strata sosial kami. Jika dalam istilah hindu, strata sosial mereka ini disebut "Brahma" sementara yang lainnya adalah "waisha" dan "sudra". Mereka yang tergolong kasta "Brahma" hidup dalam gemerlap kekayaan. Tak jarang mereka berkelakuan aneh dan kadang diluar akal sehat manusia. Kaum prianya selalu berpakaian klimis nan eksotis dengan dibalut rapi jas-celana hitam serta berdasi. Layaknya anggota DPR terhormat padahal kerjaannya hanya berkeliling kota memamerkan kekayaannya. Sementara wanitanya, lebih banyak berkumpul mengadakan arisan sambil mengoceh sana-sini tak jelas arah. Wanita-wanita ini adalah "medusa". Ya, mereka cantik luar dalam, mempesona para pria bahkan kaum "waisha" dan "sudra" pun terpana kalau melihat mereka. Bagaimana tidak, paras yang cantik, tubuh indah aduhai, payudara molek serta kulit yang seputih kapas, tak luput rok 1/4 memamerkan paha mulus yang selalu terawat oleh krim anti ultraviolet bermerek. Sayang, mereka materialistis. Tidak jarang mereka menggaet pria lain yang lebih tampan dari suaminya untuk diperas hartanya. Jangan kaget dulu. Prianya justru lebih gila lagi. Mereka sering kali tertangkap basah melakukan korupsi demi mempertahankan hartanya di mata sang wanita.
Kami yang hanya berasal dari kaum "waisha" dan "sudra" sudah biasa melihat kelakuan menyimpang para "Brahma". Sayangnya, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Di negeri kami, ada ungkapan yang selalu didengungkan: yang kuat yang menang, yang kaya yang berkuasa. Suatu ketika pernah sekali kubuktikan kebenaran ungkapan ini. Kala itu, aku pergi untuk memperbarui masa berlaku sebuah kartu indentitas kewarganegaraanku. Aku mengantri sedari pagi hingga hampir menjelang matahari di atas kepala. Tiba-tiba seseorang masuk mendahului antrian paling depan dengan membawa kaum "Brahma" yang sangat modis dan mereka selesai dalam hitungan detik. Ajaib!
Nah, hari ini ku lihat banyak saluran tivi yang memperdengungkan ulang tahun negeriku ini. Mereka berasal dari kaum "penghibur" -- kaum yang bekerja untuk menghibur seluruh masyarakat negeri ini. Hal ini ternyata berpengaruh besar terhadap kaum-kaum dari "Brahma". Mereka berubah 360 derajat menjadi sok demokratis. Mereka mendengungkan kata-kata kebanggaan atas negeri ini. Kebanggaan atas negeri ini? Sebenarnya itu hanya kedok belaka. Mereka hanya bangga atas negeri ini karena sudah memberikan mereka kekayaan. Coba saja kalau mereka ditantang untuk survive ala siswa-siswi Pramuka. Alhasil, mereka pasti mengeluh seperti sapi yang melenguh.
Aku benar-benar heran atas negeriku. Dalam usianya yang memasuki usia senja, masih saja ketidakadilan untuk kaum kami menyandera hidup kami. Bagi kami, setiap hari adalah perjuangan bagaikan perang melawan waktu dan takdir. Sedikit saja kami lengah, maka waktu dan takdir akan pergi dari tangan kami. Sering kali ku berpikir, berapa lama lagi kami harus hidup dalam garis batas kesejahteraan. Katanya bangsa yang berhasil adalah bangsa yang sejahtera rakyatnya. Kalau benar demikian, negeri ini adalah negeri yang gagal, tidak, negeri yang belum berhasil lebih tepatnya.
Aku benar-benar kasihan pada negeri ini. Rakyatnya terus merana sementara yang kaya terus kaya. Jadi menurutku, dalam perayaan ulang tahun negeriku ini, sangat tidak tepat rasanya bila kami menyerukan "Kami merdeka!". Buktinya kami masih dijajah oleh kaum yang kuat. Bagiku kemerdekaan bukan diartikan sebagai berhasil mengusir kaum asing yang dulu menguasai tanah ini. Memang, jika kata "kemerdekaan" itu dikumandangkan pada saat mengusir kaum asing dulu kala itu sangatlah tepat. Namun sekarang, ketika kaum asing penjajah -- dalam artian kaum penjajah yang dulu pernah menjadikan kami budak di negeri sendiri -- sudah tidak ada, sangat jelaslah bahwa arti kemerdekaan itu kini bertransfromasi menjadi arti yang lebih umum dan up to date. Dalam hal ini kemerdekaan merupakan kesejahteraan. Intinya, rakyat negeriku harus berkaca, bagaimana nasib dan kemerdekaan itu berhubungan satu sama lain sehingga kami yang berasal dari kaum rendah juga bisa merasakan membeli pakaian indah nan cantik daripada karung goni atau sarung lusuh yang sudah menghitam.
